Sebenarnya rencana awal saya menyalakan laptop untuk mengerjakan data awal penelitian saya. Tapi rencana berubah saat hasrat ingin menyapa lagi kolom perkolom dalam blog dengan beberapa hal yang ingin saya tulis.
Mungkin ini sudah terlambat beberapa bulan tapi saya ingin berbagi rasa bahagia saya yang tadinya ingin saya simpan dan rasakan sendiri saja, karena mungkin jika saya sudah tua renta nanti dan kekurangan ingatan, anak-anak saya mungkin bisa membaca perasaan saya yang sudah berbentuk tulisan. Kali ini saya akan sedikit berbagi tentang pesta/hajatan/acara pernikahan saya.
Begitu rumit untuk menentukan hari pernikahan saya dan pacar saya, kalian mungkin sudah tahu siapa dia karena sudah beberapa kali saya menceritakan tentang "dia" ARIES MUNANDAR MOODUTO. :)
Kerumitan penentuan hari pernikahan kami disebabkan harus mengikuti perhitungan adat istiadat orang tua, bisa dikatakan hari bagus, dan entah istilah apa lagi tentang hari baik untuk pernikahan, hal ini untuk menghindari pantangan atau hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Ketika segala keputusan mengenai hari mutlak pernikahan kami, hati sedikit plong karena tinggal beberapa prosesi lagi yang akan dilewati dan dalam pikiran dan hati saya terbesit bahwa semua hal yang akan dilewati dalam proses menuju hari H ini tidaklah sulit juga tidaklah mudah.
Dan ternyata seperti itulah kenyataannya. Kendala pertama karena posisi tempat tinggal saya dan calon suami saya berjauhan, sedangkan kami harus mengurus ini itu untuk kebutuhan pernikahan, tetapi dengan segala kebijaksanaan dari calon suami saya dia mau untuk mengurus segala sesuatunya ditempat saya. Mulailah kami bergulat dengan undangan pernikahan.
Sisa waktu sebulan lebih bisa dikatakan waktu yang sempit untuk menuntaskan segala urusan ini. Apalagi masalah undangan, jika mungkin menikah hanya memakai gaun biasa dan calon suami mengenakan setelan batik dan dilaksanakan di KUA mungkin tidak memerlukan undangan secara fisik karena hanya membutuhkan penyampaian kepada sanak saudara dari mulut ke mulut. Tapi demi memberi kehormatan dan ucapan terima kasih kepada kedua orang tua kami,tak ada salahnya merepotkan diri karena telah diizinkan untuk menikah oleh mereka.
agak pusing memang dengan memilih undangan. Tapoi toleransi diberikan kepada kami berdua. ide tentang konsep undangan kai yang memilih, ayah hanya memberikan konsep isi undangan...
Ini foto undangan desain suami saya yang disetujui orang tua kami..bagus kan ;)
ini juga desain suami saya, diminta orang tua saya dibuat untuk para orang-orang tertentu. :)
ini juga desain suami saya...:)
Nah ketiga macam desain undangan itu dibuat suami saya, tapi tidak total seluruhnya darinya ide-ide itu. saya beberapa kali dimintai ikut mendesain juga undangan yang berlatar belakang klub bola kesukaannya, eh kesukaan kami.. :D
segala proses desain dan pencetakan undangan itu kami lakukan sendiri, dirumah! Bukan karena pelit atau tidak percaya dengan jasa percetakan tapi kami lebih bisa merasakan lelah dan ikut andil dalam proses menuju hari H kami berdua... :) dan semua itu hanya menghabiskan waktu kurang lebih seminggu lebih.
Disamping urusan undangan, segala sesuatu yang harus ada dihantaran ketika prosesi adat dutu nanti kami juga yang mengurusnya sebagian misalnya, segala perlengkapan kebutuhan mandi, make-up, pakaian dan sendal.
Lelah? iya..karena semstinya calon pengantin itu rehat tapi kami sibuk dengan beberapa hal. tapi kami tersenyum bangga, puas.. karena hasil cetakan undangan dan desainnya mendapat tanggapan positif dari orang-orang yang menerima undangan tersebut. :)
Saya mempunyai ayah yang pintar memanage hmmm...bisa dikatakan dia menjadi wedding organizer kami..:D bukan hanya ayah, ibu dan tante juga om-om saya ikut melibatkan diri dalam terlaksananya proses pernikahan ini. Undangan yang dicetak suami dan sepupu saya dan hingga beres oleh adik terkecil saya, setelah selesai langsung dikirimkan kepada orang-orang yang dituju oleh ayah juga ibu. simple. semua berjalan lancar karena tidak harus menunggu semua undangan selesai untuk diantar.
Ada beberapa kesulitan menjelang akad nikah kami, kesulitan mencari tempat pelaksanaannya. Kediaman saya cukup sempit halamannya sehingga tidak mampu menanmpung keluarga besar dari kedua belah pihak ataupun undangan, setelah beberapa pertimbangan oleh orang tua akhirnya resmilah tempat pelaksanaan dutu dan akadnya dirumah tante saya (kakak tertua ayah).
H-2 saya meremajakan diri, facial dan luluran. tadinya mau dicreambath juga tapi berhubung 2 hari lagi rambut akan diikat walaupun saya nantinya menggunakan jilbab jadi memilih tidak melakukannya. H-1 saya diminta untuk segera menuju tkp pelaksanaan akad nikah, karena segala proses make-up dll dilakukan dirumah tante, jadi tidak ribet. Lumayan berasa suasana hajatan pernikahan kami. Karena berhubung banyak keluarga yang datang dari luar daerah, jadi suasananya memang heboh, karena selain pakai jasa caterring ada juga kegiatan masak-memasak dirumah tante.
Hari H-nya...
Masih setengah 6 pagi saya sudah didandani..asal tahu aje ya...deg-degan sudah menggunakan baju adat ini..seakan tidak percaya dengan apa yang dialami dan itu nyata!! :)
saya lagi pegang-pegang handphone..tau kenapa?? lagi gelisah,,katanya tamu sudah berdatangan, waktu pelaksanaan akad nikah beberapa menit lagi, tante-tante sama mamah ngomel karena belum ada tanda-tanda calon suami dan keluarganya datang...saya juga ikutan panik..>,<
ini lho adik terkecil saya,,dia turut banyak berperan dalam persiapan pernikahan bahkan hari H dia jadi fotografer dadakan :)
mereka akhirnya sampai...makin deg-degan karena beberapa menit lagi mau dinikahin.. :D
ini seserahan/hantaran...
haha..tegang nih yee..:)
proses pembaitan, kemudian ijab qabul dan Alhamdulillah lancar dan sah... :) :*











2 komentar:
Selamat ya atas pernikahannya, semoga menjadi keluarga harmonis :)
Hai...terima kasih indi..saya baru buka-buka komentar, dan baru lihat ini...sy minta maaf baru dibalas tapi terima kasih atas do'anya semoga kamu selalu bahagia indi...
Posting Komentar