29/12/22

Entah apa, kita yang tahu.

Aku tidak tahu cinta seperti apa yang kau punya
Begitupun dengan rindumu
Apakah dari hatimu atau ilusimu

Aku seperti seorang pengelana yang sedang terlunta-lunta kehausan dan ditemukan oleh kamu.
Aku tidak bisa menyentuhmu tapi aku bisa merasakan adamu, bahkan rasa dan asamu.
Atau aku seperti terdampar ditengah lautan sepi yang terombang-ambing menuggu menepi.

Aku tidak mau menerka, cerita seperti apa yang akan kamu tulis, berakhir sakit atau bahagia
Aku hanya berdiri dan mengikuti alur rasa yang ada Naik turunnya, bahkan kadang aku masih berpikir apa ini sebenarnya,menjalani yang tidak tau seperti apa nantinya

Kita sama-sama melangitkan rasa, membumbuinya dengan rindu dan menghabiskan waktunya dengan menunggu


29 Des'22
Dibawah langit abu-abu 

14/12/22

14 Juli 2012 (Again)

Me-rewind kembali perasaan pertama kita bersama. 
Mengingat-ingat kembali masa-masa itu tanpa terasa kini kita memiliki anak yang menuju remaja. 
Semakin berat tugas kita sebagai orang tua tentunya.
Yah kita sebagai orang tua. Bukan sebagai KITA.
KITA dalam hubungan ini sudah lama pergi. Sudah lama telah menjadi sebuah kenangan. 
Kukira ketahanan aku menyikapi sikap kerasmu akan membuat rasa yang sama tetap ada. 
Setiap hari aku, merefresh untuk mencintai orang yang sama. Tapi sayangnya aku tidak mencintai orang yang sama tapi mencintai seorang ayah dari anak-anakku. 
Kenapa? 
Setiap ada pertengkaran antara aku dan kamu, ikatan pernikahan seolah-olah biasa saja bagimu, suasana gugur saat ijab Qabul seakan tiada arti dinadimu karna sangat mudah mengucapkan perpisahan.
Aku pun dengan mudah memaafkan tanpa terasa itu menjadi sebuah dinding setiap kata itu terucap kembali. 
Hingga sekarang, dinding itu semakin kuat. Semakin terasa kamu meremehkan aku dengan asumsi-asumsi yang ada di imajinasi mu. 

Serendah itukah kamu berpikir tentangku? 
Ahh sudahlah. Saking sakitnya rasa didadaku atas asumsimu aku menahan tangis, menahan kecewa dengan tawa tapi aku sudah enggan berjalan disisimu. 

Sampai akhirnya disuatu malam, dengan kejinya kamu menyumpahiku. 
Aku marah, tentunya. Karna sebegitu kejinya ternyata dirimu. Sampai kalimat kalimat serapah dengan gampangnya terucap dari mulut sopan katanya yang dikira orang-orang sekitarmu. Bukan karena ada hati yang lain, tapi aku telah menarik semua rasaku di dadamu. 

Dan terjadi lagi, play victim andalanmu. Hahaha 
Marah, merusak, menyakiti. 
Aku lelah dengan sikap itu. 
Aku tidak peduli apapun yang terjadi. 
Berulang kali kamu menyakitiku dengan kata-katamu tapi kumaafkan dan kamu tidak menyadari kata-katamu menyakitiku kamu ulangi semua fase yang sama.
Aku lelah. 
Biarkan pertama kita bertemu dan bersama menjadi cerita, kenangan, dan pelajaran bahwa kita telah melaluinya dengan kesabaran dan pengampunan yang berulangkali. 
Oh iya, aku tidak pernah lagi meminta tuhan berpikir tetap menyatukan kita karena kamu sudah menjadi orang terbaik yang pernah ada di kehidupanku.