19/07/12

Breaking Point

Tiba-tiba saja ide untuk menuliskan ini muncul saat nonton sebuah film. Nah, beberapa waktu yang lalu saya benar-benar bingung mau menuliskan apa. Bolak balik di blog buat entri tulisan tapi benar-benar blank. Dan akhirnya menemukan sesuatu yang mungkin cuma ide biasa-biasa saja. Tapi mengertilah, munculnya ide ini harus bergelut dulu dengan pikiran dan ketiadaan ide. Okey, let's to my mind... Setiap orang yang mengalami sebuah trauma hidup atau apapun namanya itu secara tidak langsung akan membuat diri kita, membuat titik batas untuk sebuah perasaan, sebuah langkah, sebuah mimpi atau apapun namanya yang pasti disebut batasan. Hal ini mungkin karena kita terlalu takut akan berada disebuah resiko yang berat karena kita melangkah maju untuk mencapai apa yang sebenarnya dikatakan oleh hati kita. Emang sih, hal-hal yang membuat kita patah hati itu atau bersedih karena kita terlalu banyak keinginan namun kita tidak bisa mencapainya. Mempunyai keinginan itu penting. Melangkah maju itu penting. Kenapa kita harus takut? Asalkan mempunyai batasan untuk tidak terlalu berharap penuh. Dan coba bayangkan deh, disaat kita terpuruk, orang-orang yang telah menodai hidup kita dengan kesedihan malah sedang bersenang-senang ataupun mereka sedang menertawakan kita. Memang mungkin itu terlihat mudah untuk dikatakan. Tetapi jika kita terus berada di titik yang sama kapan kita bisa maju? kapan ada kalimat, kapan ada warna, kapan ada cerita, kapan ada kisah baru? Jika misalnya ini masalah perasaan, jika memang sebenarnya orang yang ada didepan kita adalah hadiah Tuhan atas sakit hati yang kita rasakan, kenapa kita tidak menangkapnya dan menjaganya menjadi milik kita? Kesempatan yang sama tidak akan datang dua kali. Bisa saja Tuhan akan menutup peluang kita, karena kita terlanjur marah pada Tuhan atas perlakuan-Nya kepada kita. Bukan Tuhan yang membuat kita patah hati, kitalah yang tidak mengukur porsi agar kita tidak patah hati. Dan ketika Tuhan menggantinya dengan orang yang baru, jangan coba-coba deh jual mahal. Tuhan memang meminta kita untuk memilih tapi bukan berarti terlalu pilih-pilih. Selektif itu perlu. Tapi bukan berarti menjadi terkesan sok jual mahal dan pemilih. Dan itu menjadi sikap kita terhadap Tuhan terkesan sombong. Melanggar titik batasan yang kita buat untuk merasakan kebahagiaan adalah WAJIB dilakukan. Hidup hanya sekali. Ada banyak hal indah yang melewati kita tapi kitanya cuma diam ditempat yang sama. Gak salah kok kita mencintai orang, yang salah itu yah kita terlalu mengharap penuh. Dijalani saja hidup ini seindah-indahnya dan sepositif thinking. Ingat yah, hidup cuma sekali. Sayang banget harus dijalani dengan kesedihan dan kebahagian yang dibuat-buat. Perlakuan kita terhadap kehidupan menentukan sikap kehidupan pada kita. Apa yang Tuhan berikan didepan kita itulah yang seharusnya kita ambil. Nikmati dan syukuri Rahmat-Nya.

3 komentar:

Anonim mengatakan...

thankz... aq mrsa trbntu dgn artikel ini.... skali lgi thankz.... (y)

Prastiwi mengatakan...

alhamdulillah..mksh kembali...semoga lebih berwarna hidupnya...:)

Anonim mengatakan...

amiiiiinnnnnnn

Posting Komentar