Pernah terpikir bahwa pertemuan kita akan menjadi sesuatu yang sempurna dari setiap mimpi saya. Ternyata tidak. Berbagai masalah muncul. Saya tidak cukup kuat menghadapi setiap masalah itu tapi saya cukup pintar untuk menyembunyikan semua masalah. Saya tidak tahu kenapa saya bisa kuat. Masih bisa tersenyum lega menghadapi sepelik masalah yang ada. Mungkin ada kamu. Ada bahu tempat saya bersandar. Ada tangan yang mengenggam menguatkan. Ada pelukan yang menenangkan. Saya yang tidak cukup kuat sedikit-sedikit merasa tumpuan saya bertambah karena kakimu. Beberapa minggu lalu diawal 2013 saya iseng bertanya tentang kebersamaan kita dan kita yang masih saling berantem dan masih bersama. Kamu hanya tersenyum dan berkata karena kita saling melengkapi. Santai dan dengan datarnya kamu berkata seperti itu. Tapi sepertinya itu dalam. Menyembunyikan masalah yang menjadi kebiasaan saya malah saya betah menyembunyikan perasaan bahagia saya bersama kamu. Jujur saya bahagia bisa bertemu dan menjadi pasangan kamu. Tapi saya terlalu takut untuk kehilangan rasa bahagia itu. Saya terlalu parno dengan kejadian-kejadian yang pernah saya alami. Dari berbagai kejadian yang saya alami selebihnya saat ini saya membutuhkan kepastian tentang tujuan saya dan kamu. Dan dari semua hal yang kita berdua alami dan lewati saya malah melihat parno saya berlebihan. Mungkin saya sekarang lebih egois menginginkan kamu selalu ada didekat saya. Saya ataupun kamu sama-sama tidak sempurna. Tapi keberadaan kamu dan hubungan kita membuat saya merasa semua itu sempurna. Seperti kopi tiwus walau tak ada yang sempurna hidup ini indah begini adanya. Sejujurnya saya parno akan kehidupan saya di masa lalu. Kelapangan hati kamu untuk menerima semuanya membuat saya semakin takut. Saya pernah diterima seperti itu dan pernah ditendang mentah-mentah karena semua itu. Walaupun kamu mengatakan bisa mampu menerimanya tapi penerimaanmu berat untuk saya terima. Saya takut untuk benar-benar tahu kalau saya sedang jatuh hati, sedang jatuh cinta. Saya takut akan kembali menjalin sebuah hubungan. Sebuah hubungan yang akan dibiarkan tumbuh tanpa keteraturan yang hanya akan menjadi hantu yang tidak menjejak bumi dan alasan cinta yang tadinya diagungkan bisa berubah menjadi utang moral, investasi waktu, perasaan, serta perdagangan kalkulatif antara aku dan kamu. Itu yang saya takutkan.
Hhhh........cinta itu sebenarnya butuh dipelihara. Ya ya bahwa disepak terjangnya yang mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan. Cinta jangan selalu ditempatkan sebagai iming-iming besar, atau seperti ranjau yang tahu-tahu meledakkanmu- entah kapan dan kenapa.
Cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikutkan disetiap langkah kaki, merekatkan jemari, dan berjalan bergandengan. Karena cinta adalah mengalami. Hhhh...itulah yang saya rasakan. Dia dan saya...entah itu siang ataupun malam saya ingin saat membuka dan menutup mata untuk berjalan di kedai-kedai mimpi saat terlelap saya inign ada senyum yang selalu saya rindukan, ada tatapan yang selalu membuat saya tak ingin berpaling.
Sayang cinta tidak hanya pikiran dan kenangan. Lebih besar, cinta adalah saya dan kamu. Interaksi. Perkembangan dua manusia yang terpantau agar tetap harmonis. Karena cinta itu hidup bukan Cuma maskot untuk disembah sujud.
Sayang saya itu butuh kamu. Setiap saat. Kamu tau?!!!

0 komentar:
Posting Komentar