"yang tidak hadir besok menghadap Pak Ronal". Kira-kira seperti itulah isi sms dari kepala suku di kelas saya, semester 7 jurusan akuntansi.
***
Awal menerima sms itu, memori ingatan saya kembali ke masa-masa berseragam dulu. Dimana yang tidak hadir harus menghadap guru untuk memberi tahu ketidakjelasan tidak hadir dikelas. Ahh,,itu masa-masa berseragam mana mungkin dibangku kuliah akan seperti itu. Saya terkikik sendiri. Mungkin akan diberi tugas, dan seperti itulah kejadiannya.
Keesokan harinya saya dan beberapa teman yang tidak hadir mendatangi ruang dosen tempat Pak Ronal. Berpeluh-peluh keringat yang kami hasilkan karena orang yang kami tuju setelah menunggu lumayan lama ternyata berada diluar kota. Kesal. Tapi untungnya beliau tidak meminta kami untuk datang keesokan harinya. Dia hanya meminta kami membuat lingkaran dan melihat siapa yang disebelah kiri kami kemudian mendeskripsikan teman yang ada disebelah kiri kami. Bingung! Pastinya itu yang ada dalam pikiran saya. Untungnya saya mendapatkan penjelasan dari Riris kepala suku kami dikelas. Ada tapinya nih,,saya tidak tahu apa yang harus saya tanyakan pada teman saya yang bernama lengkap Serri susanti manopo. Mumet. Benar-benar pening kepala saya. Ya ya ya.. saya sadar waktu terus berjalan dan semakin mepet hari H-nya.
Jumat malam, saya mencari apa yang harus saya tanyakan dan bagaimana saya menuliskannya nanti. Dan yah, sabtu pagi saya tahu apa yang harus saya tanyakan pada teman saya yang kami sekelas sapa “susan”. Seperti nama boneka yang sering menemani Ria Enes..:D
Ok..ok...apa yang ingin saya tahu tentang susan sudah ada dikepala saya dan biar tidak lupa saya mencatatnya. Well, Sabtu siang itu dengan semangat yang diempat limakan saya bergegas mandi, tapi sayang saya tidak bisa bertemu langsung dengan objek yang akan saya deskripsikan. Karena itu adalah hari sabtu dan Susan sudah memiliki keluarga dengan dua orang anak. Okelah. Saya maklum dia sibuk dengan keluarganya dan saya tidak bisa mengganggu gugat acara keluarga kecil itu. Tapi saya belum kehabisan akal dan masih ada cara lain untuk mencari tahu tentang dia.
Social media facebook. Itu alternatif yang terpikirkan. Ditengah – tengah saya sedang pacaran, buru-buru saya mengetik semua hal yang ingin saya tanyakan padanya dan segera mengirimkan ke akun facebooknya. Agak tenang. Tapi cukup khawatir juga. Waktunya benar-benar sudah mepet dan belum ada tanda-tanda dari susan menjawab apa yang saya kirimkan. “Mana handphone..mana handphone” ujar saya ditengah-tengah malam mingguan saya bersama pacar. Agak lesu saya menerima balasan sms dari susan “Maaf ya k’ tiwi. Nanti setelah anak saya tidur baru saya tulis trus dikirim”. Saya mikir. Kira-kira berapa lama saya harus menunggu. Sedang pacaran saja, mata saya minta istirahat. Nunggu dan nunggu. Belum ada yang dikirim. Okelah saya tidur.
Beres-beres rumah dan bergegas online. Syukurlah sudah ada tanggapan balik dari susan tentang apa yang saya ingin tahu darinya. Well, blogiest. Ibu dua anak ini tidak membutuhkan apapun karena yang lebih dia utamakan adalah kebutuhan anak-anaknya. Tapi hanya untuk saat ini. Ya ya ya,, saya mengerti. Kedua buah hatinya masih kecil mungil. Masih banyak yang dibutuhkan oleh kedua anak itu, wajar kalau Susan menyampingkan apa yang dia butuhkan saat ini. Dan itu sangat-sangat wajar. Karena ada ibu muda yang tidak bisa seperti dia. Yang lebih memperhatikan diri sendiri sementara anak mereka harus diurus oleh kakek nenek si anak.
Susan menjadi gelisah karena kebutuhan dari kedua buah hatinya adalah hal penting. Untuk kedua kalinya saya akan mengatakan itu adalah hal yang wajar. Susan masih duduk dibangku kuliah. Belum punya kerjaan tapi punya suami yang sudah kerja dan mampu menghidupi dia dan anak-anaknya. Tapi seorang ibu pastilah dia ingin ada penghasilan untuk menyenangkan anak-anaknya tanpa harus bergantung pada suami.
Sewaktu saya tanya “kenapa menikah muda?” susan menjawab “takdir dia menikah muda”. Saya tersenyum dengan jawaban itu. Iya memang takdir dan itu pilihannya untuk melangkah lebih awal dari teman sebayanya untuk menjadi seorang istri dan ibu. Dan menikah bukanlah identik dengan kesenangan, yah walaupun susan mengatakan kehidupannya menjadi sangat baik setelah menikah. Menikah kan bukan hanya disaat pesta adalah hal yang menyenangkan. Menikah itu perjalanan awal setelah ijab qabul yang menandakan seseorang siap menghadapi sepak terjang dan senyuman bahagia dan Susan membuktikannya. Dia bisa bahagia dan lebih baik setelah menikah.
Memilih kuliah disaat kondisi yang bukan single itu suatu jempolan untuk Susan. Dan itu keinginannya. Tentu saja Susan tidak hanya ingin membanggakan keluarga kecilnya sebagai seorang istri dan ibu yang hebat. Dia masih punya keinginan untuk membanggakan orang tuanya sebagai seorang sarjana. Blogiest tahu, pada semester lalu saat itu susan sedang mengandung anak keduanya. Beberapa minggu sebelum melahirkan susan tidak masuk kelas lagi. Tapi, baru dua hari dia melahirkan tiba-tiba saya melihat dia dan teman-teman di tangga depan ruang kuliah. Heran saja, setahu saya orang yang baru melahirkan harus istirahat tapi susan malah keliaran dikampus karena mau nimba ilmu.
Bagi Susan, mengejar kesenangan dan menghindari hal-hal yang menyakitkan itu wajar. Tapi bukan berarti mendahulukan kesenangan. Bisa melewati saat-saat yang menyakitkan sehingga memperoleh kesenangan. Sangat disayangkan Susan meng-judge bahwa dia memiliki potensi yang lemah.
Susan memiliki sifat yang mudah marah dan bosan. Mungkin itu dikehidupan lain bukan di dalam kehidupan keluarga kecilnya. Karena sepertinya dia bisa sabar dan telaten mengurus anak dan suaminya. Buktinya? Dia menyampingkan urusannya dengan saya demi anaknya. Itu sudah cukup menjadi bukti dia mencintai peran istri dan ibunya dan kecil kemungkinannya rasa bosan itu menjadi besar dikehidupan keluarga kecilnya. Mengurus anak dan suami dan berusaha tetap hadir disaat dia harus istirahat setelah melahirkan karena dia merasa puas dengan apa yang dia lakukan untuk orang lain.
Susan merasa dia adalah manusia yang bahagia walaupun masih ada yang lebih bahagia dari dia. Diatas langit masih ada langit. Tapi baginya kebahagiaan yang berarti adalah keberadaan anak-anaknya. Berbeda dengan saya yang belum menikah. Susan tinggal memikirkan menyelesaikan studinya dan terus menjadi istri dan ibu yang lebih baik juga hebat.
Saya puas dengan percakapan tertulis kami...saya jadi lumayan tahu siapa Serri susanti manopo. Pilihan untuk menikah muda dan apa yang dia rasakan setelah menikah dan semangatnya untuk menyelesaikan studi S1-nya membuat saya merasa beruntung punya teman sekelas seperti susan. Walaupun baru 1 tahun lebih 2 bulan saya mengenalnya. Makasih yah mama Naya...:)

0 komentar:
Posting Komentar