“Na, 3 bulan lagi kamu lahiran. Apa tidak ingin mencari suamimu?”
“Untuk apa? Dia juga kan yang meninggalkan aku.”
“Tapi setidaknya kamu meminta dia untuk kembali. Kasihan anakmu nanti.”
“Jen, bukan hanya sekali aku meminta untuk dia kembali. Dia memintaku berubah dengan sikapku. Tapi saat aku bisa merubahnya, mengerti segala keinginnya walaupun aku tak menyukainya, meredam segala emosiku. Dan aku berhasil. Tapi saat masalah yang sangat sepele dia langsung pergi meninggalkan aku yang sedang mengandung, tanpa berpikir sedikitpun aku dan anaknya”.
Jenne hanya manggut-manggut mendengar penjelasanku. Jenne teman kerjaku sekaligus sahabat baikku. Orang yang paling mengerti tentang diriku. Dan selalu siap ketika aku dalam masalah dan butuh bantuan.
“lalu bagaimana persiapan melahirkan nanti?”
“sejauh ini aku tinggal mengumpulkan uang untuk melahirkan dan mengontrak rumah. Makasih ya Jen. Kamu sahabat yang paling baik.”
“Apa dia pernah mencarimu?”
“Sama sekali tidak. Entahlah, kalaupun harus berburuk sangka, dia mungkin jenuh padaku dan lupa segala komitmen dan pernikahan kami. Dan awalnya tidak seperti ini. Aku menyesal, tapi untuk apa. Menyesalpun tak akan membuatnya kembali. Suami yang selalu ada untukku dan selalu menyayangi juga mencintaiku.”
“iya, na. Na apa kamu tidak menyayangi dan mencintai suamimu lagi?”
Aku menatap Jenne lama. Kurasa kantong air mataku penuh dengan pertanyaan Jenne tersebut.
“Aku masih sangat mencintainya,Jen. Bahkan saat dia membuatku sakit dan meninggalkanku juga saat orang tuanya memintaku untuk meninggalkan dia. Mestinya pertanyaan itu kau tanyakan padanya, karna pertanyaan itu lebih pantas untuknya.”
“Maaf, Na. Tadi kamu bilang orang tuanya memintamu untuk meninggalkannya?”
“Ya begitulah. Lebih tepatnya, ibunya yang memintaku. Kata beliau lebih baik aku meninggalkan dia dan mencari orang yang bisa membuatku senang daripada dengan suamiku yang selalu menyakitiku”.
“Kok ibunya seperti itu, na? Apa dia tahu saat itu kamu sedang mengandung”.
“entahlah Jen, aku tidak tahu kenapa ibunya bisa setega itu mengatakan itu. Dia belum tahu saat itu aku mengandung. Jen, yuk. Sepertinya kita sudah terlalu lama istirahat.”
Rina wanita yang memang harus siap untuk membangun dirinya sendiri apalagi dia dalam keadaan hamil. Dia harus mengurus semua keperluan saat mengandung sendiri tapi sesekali Jenne membantunya. Rina harus mengungsi jauh-jauh meninggalkan segala sesuatu yang membuatnya terluka. Suaminya dan mertuanya.
3 bulan kemudian rina melahirkan. Hanya jenne yang ada saat itu. Setelah melahirkan beberapa teman kantor Rina membesuk Rina. Jenne sempat khawatir. Karena Rina sempat mengalami pendarahan dan membtuhkan darah. Tapi semua berjalan dengan lancar.
“Na, apa kamu tetap tidak akan memberitahu suamimu?”
“Jen, aku tidak perlu meminta dia kembali dan meminta dia untuk mencintai dan menyayangiku lagi. Bukan hanya sekali aku mengatakan padamu, Jen. Dia yang pergi meninggalkan aku. Aku diperlakukan seperti sampah oleh suamiku sendiri dan mertuaku. Dan aku sudah meminta dia kembali dan memohon padanya. Tapi walaupun kembali dia meninggalkanku lagi, Jen. Di dunia ini, memiliki Nada putriku itu sudah sangat membuatku bahagia tanpa harus bersama suami yang meninggalkanku.
“Tapi, Na. Nada juga anak dari suamimu, Na”.
“Nada adalah anakku. Aku yang mengandungnnya, dan mengurus diri sendiri saat sulit aku mengandung. Aku menjaga nada sendirian. Aku melahirkan Nada hingga pendarahan. Suamiku hanya menitip benih. Apa aku harus begitu. Aku akan tetap memberitahu Nada siapa ayahnya. Tapi akan aku katakan ayahnya meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat dan tidak ditemukan lagi jenasahnya. Nada tidak perlu ikut-ikut merasa sakit karna mengetahui seperti apa ayahnya memperlakukanku.”
“Jen, saat akad nikah dia berjanji padaku akan selalu menjagaku, selalu ada untukku, menomorsatukan aku, dan mencintai juga menyayangiku. Tapi dia lebih memilih emosinya. Lebih memilih amarahnya. Aku sudah memberitahunya secara halus dan keras tapi tetap sia-sia. Aku wanita yang dia pilih. Sudahlah Jen. Semua sudah terlambat untuk memutar waktu”.
Jenne tidak berkutik sedikitpun. Dia hanya mendoakan kebaikan untuk Rina. Tapi setelah itu Rina pindah dan mendapat kabar bahwa Rina dan anaknya kecelakaan pesawat terbang saat melakukan perjalanan ke Jawa.

0 komentar:
Posting Komentar