
“Sms trussssssssssssss….”
Arif yang baru datang menggodaku. Aku hanya mengangguk dan senyam senyum. Bukannya aku sedang puber atau lagi PDKT. Gue dah menikah. Nama gue Rasyid. Gue bekerja sebagi karyawan disalah satu perusahaan multimedia. Karyawan biasa-biasa saja. Tapi gue cukup bangga. Karena dengan pekerjaan gue yang dilihat biasa-biasa saja, gue bisa mendapatkan orang yang paling gue cinta. Yang paling gue sayang. Namanya Sabrina. Dia orang yang banyak mengajarkan gue arti sesuatu. Yang banyak memberi gue arti tentang cinta. Dan masih banyak lagi. Menikah adalah impian gue dan Na’.
Na’ adalah keindahan Tuhan yang diberikan dan ditakdirkan Tuhan buat gue. Mungkin gue terlalu PD dengan pernyataan dan anggapan gue terhadap pemberian Tuhan ini, tapi kalau gue bisa menjaga Na’ bukan hanya sebagai istri gue di dunia belaka tapi di kehidupan yang sebenarnya nanti, yah gue harus PD dong.
Awal bertemu dengan Na’ gue mungkin belum terlalu yakin kalau dia akan menjadi destination gue. Tapi saat Na’ mengajarkan gue tentang cinta dan menyayangi dan berjanji akan memberikan hidupnya, cinta juga kasih sayangnya hanya untuk gue, akhirnya gue jadi benar-benar yakin dia adalah destination gue. Dia yang gue butuh. Dia yang gue cari. Gue ingin menikah dan hidup selamanya dengan dia.
Itu hanya sebagian saja cerita tentang Na’ pada saat kami masih pacaran dan masih banyak lagi. Akhir-akhir ini Na’ sering marah-marah. Adaaaaaaaaaaaa aja yang jadi bahan. Entahlah mungkin setelah gue dipindahkan ke cabang kantor lain. Katanya sih dia gak kenal dengan orang-orang tempat kerja gue yang baru ini. Beberapa kali aku dan dia berdebat. sebenarnya ini salah gue juga. Yang kurang maksimal dalam kerja dan sering terlambat. Padahal Na’ sudah berulang kali mengingatkan gue, tapi gue yang masih saja melakukan keteledoran itu. Gue benar-benar menyesal, bukan karena kepindahan gue. Tapi karena sikap gue akhirnya gue jadi menyakit Na’. Setiap hari Na’ marah, dan itu karena gue juga. Setelah kepindahan gue dikantor ini, aku malah lebih malas bangun. Padahal Na’ sudah bolak-balik membangunkanku.
Suatu hari gue bangun lebih telat dari biasanya. Rumah sangat sunyi. Biasanya kalau gue bangun Na’ sedang memasak. Tapi telingaku tidak menangkap suara dari dapur. Dan sepertinya hanya gue seorang didalam rumah. Mungkin Na’ kepasar. Pikir gue.
Buru-buru gue mandi dan berpakaian. Gue pikir Na’ sudah kembali. Tapi saat akan menutup pintu kamar, sebuah pesan singkat dikertas memo tertempel di pintu kamar.
Untuk beberapa hari ini aku mau nginap dulu di apartemen lama.
Rasanya kamu perlu waktu untuk memikirkan kenapa aku sengaja pergi dari rumah.
Sebelum kamu sadar dengan apa yang membuat aku marah, jangan dulu menghubungiku.
Love
Na’
Seketika gue jadi loyo. Niat ke kantor kuurungkaan, tempat tidur jadi pilihan gue. Gue salah, iya semua gue salah. Sejak ditempat itu gue itu, gue jadi mengabaikan Na’. kebiasaan gue berubah, gue jadi membuat Na’ terabaikan. Kebetulan di kantor yang sekarang bosnya teman gue, dan rata-rata karyawannya teman-teman gue juga. Gue jadi keasyikan dengan teman-teman gue. Apa yang dulu biasanya gue buat sekarang sudah tidak lagi. Na’ jadi terabaikan. Hhh, kenapa setelah Na’ pergi menyendiri baru gue sadar dengan sikap gue.
Na’ yang sering marah-marah akhir-akhir ini juga karena ulahku. Bangun kesiangan, pulang langsung tidur, padahal Na’ sudah menungguku pulang sebelum magrib dan makan malam bersama. Komunikasi gue dan Na’ juga berkurang, paling hanya menanyakan apa dia sudah makan dan minta maaf karena telat pulang pada pagi hari, setelah itu langsung ke kantor. Gue benar-benar jahat menelantarkan istri gue sendiri. Mengabaikan dia, membuat dia merasa sendiri. Padahal dulunya dia dan aku tidak seperti ini. Dia hidup gue, dia destination gue, tapi gue jadi membuatnya asing dalam rumah sendiri, dalam diri gue. Seharian gue mengurung diri dikamar, menyesali semuanya. Gue benar-benar kesal dengan diri gue sendiri. Jika Na’ hanya marah biasa-biasa saja dia tidak akan mengungsi ke apartemen lamanya.
***

0 komentar:
Posting Komentar